Cerita yang Menolak Diselesaikan


Berulang kali, aku selalu terhenti di kalimat yang sama.


Bukan karena kehabisan kata, bukan pula karena aku tidak tahu apa yang harus kutulis. Tanganku masih siap di atas keyboard, pikiranku penuh dengan ide. Kursor itu berkedip berulang di ujung baris, seolah menungguku meneruskan sebuah masa depan. Namun setiap kali aku mencoba, kalimat itu runtuh begitu saja, seperti tanah yang tiba- tiba kehilangan pijakan.
Aku telah menulis ulang bagian ini puluhan, mungkin ratusan kali. “Dan di masa depan, manusia akhirnya….”

Namun, kalimat itu tak pernah selesai. Aku menutup laptop, membukanya kembali, mengganti font, mengganti judul, bahkan mengganti alur cerita. Tetapi setiap kali aku sampai pada kata masa depan, tulisan itu selalu berhenti. Bukan halaman kosong yang muncul, melainkan jeda yang aneh, seperti napas yang tertahan terlalu lama. Seolah ada sesuatu yang menolak untuk dilanjutkan, sebuah cerita yang menolak untuk selesai.

Awalnya kupikir ini hanya kelelahan. Berulang kali kucoba untuk mencari alasan yang terdengar masuk akal, kurang tidur, terlalu banyak tekanan, atau sekadar kehilangan semangat. Namun alasan-alasan itu gugur satu per satu ketika aku sadar bahwa bukan aku yang memutuskan untuk berhenti menulis, melainkan cerita itu sendiri.

Aku mencoba menghindari masa depan. Kutulis kisah tentang kota yang berkilau oleh teknologi, tentang manusia yang hidup serba cepat, tentang segala kemajuan yang selalu diagungkan sebagai penyelamat. Aku menyingkirkan pohon, sungai, dan tanah dari cerita. Aku membuat dunia yang bersih dari lumpur, hujan, dan bau daun basah. Dunia yang rapi dan efisien, sebuah utopia yang nyata.
Tetapi ceritanya tetap berhenti. Selalu tepat sebelum masa depan. 

Kursor di layar terus berkedip, seperti mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang sengaja kuabaikan. Aku mulai bertanya-tanya apakah masa depan memang bisa ditulis begitu saja, tanpa menyebut apa yang menopangnya?. Atau jangan-jangan, masa depan bukan sekadar bagian akhir cerita, melainkan akibat dari semua yang kutolak untuk kutuliskan.

Malam itu, aku menatap layar yang kosong lebih lama dari biasanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba memaksa cerita agar berjalan. Aku hanya duduk dan menunggu, mendengarkan keheningan yang aneh itu. Dan di antara detik-detik sunyi, aku sadar. Mungkin, bukan ceritaku yang bermasalah. Mungkin bumi yang sudah terlalu lama tidak dilibatkan.

Esok paginya, aku memutuskan untuk tidak memikirkan keganjilan itu terlalu jauh. Barangkali aku hanya terlalu larut dalam renungan. Bisa saja aku hanya membesar- besarkan hal kecil, lalu menyebutnya krisis eksistensial. Aku memutuskan untuk menyeduh kopi, membuka laptop, dan berjanji pada diri sendiri untuk menulis apa pun, asal bukan tentang bumi.

Aku memulai sebuah cerita baru.

Tokohnya seorang insinyur muda di kota masa depan, tempat segalanya diatur oleh algoritma. Tidak ada bencana banjir karena hujan diprediksi dengan presisi. Tidak ada lagi kekurangan pangan karena semua ditanam di laboratorium. Kota itu bersih, terukur, dan tidak bergantung pada alam yang rapuh. Setidaknya, begitu yang ingin kutuliskan dalam cerita kali ini.

Aku dengan sengaja menghindari kata-kata yang terasa terlalu organik. Aku menolak menyebutkan tanah. Aku menghapus fenomena hujan dan menggantinya dengan “sistem pendingin kota”. Sungai tidak lagi mengalir, ia aku ubah menjadi “saluran distribusi air”. Pohon tidak lagi dibutuhkan, sebab udara disaring dengan mesin.

Cerita itu terasa lancar. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, jemariku bergerak tanpa ragu. Aku hampir percaya bahwa masalahnya telah selesai. Hingga aku sampai pada bagian akhir.
 
“Dan di masa depan, manusia akhirnya berhasil…” Kalimat itu terhenti lagi.
Aku menatap layar dengan rahang mengeras, penuh dengan kebingungan. Kali ini aku tidak menutup laptop. Aku tidak mengganti font. Aku tidak berjalan mondar-mandir mencari alasan apa pun. Aku langsung menghapus kalimat itu dan mencoba menggantinya dengan versi lain.
“Pada akhirnya, manusia hidup tanpa…” Terhenti.

Aku menghela napas panjang dan bersandar di kursi. Ada sesuatu yang jelas-jelas menolak untuk dituliskan, dan semakin aku berusaha menghindarinya, semakin kuat penolakannya. Seolah cerita itu memiliki batas moralnya sendiri dan menolak untuk kuselesaikan.
Siang itu, pesan dari temanku masuk.

Ia menanyakan perkembangan dari naskahku dan mengingatkanku tentang tenggat pengumpulannya. “Cerita apa pun tidak masalah,” tulisnya, “asalkan relevan dengan tema dan terkesan optimistis. Pembaca butuh harapan.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali. Harapan. Kata yang terdengar ringan, tapi sering kali disusun dari penghapusan. Aku membalas dengan singkat bahwa aku sedang mengerjakan sesuatu yang “berbeda”, tanpa benar-benar tahu apa maksudku sendiri.

Menjelang sore, aku mencoba pendekatan lain. Aku menulis tentang manusia. Sepenuhnya tentang manusia. Tentang konflik, cinta, ambisi, dan kegagalan. Tidak ada latar alam yang signifikan. Semua peristiwa terjadi di ruang-ruang tertutup, di gedung tinggi, di balik dinding kaca.
Cerita itu bergerak cepat. Dialognya hidup. Konfliknya terasa. Namun ketika aku tiba di bagian penutup, kursor itu kembali berkedip dengan cara yang sama. Sunyi, sabar, dan menuntut. Seakan menunggu sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu apa itu.
 
Aku akhirnya sadar, ini bukan soal genre, bukan soal gaya, dan bukan soal kemampuan. Setiap kali aku mencoba membayangkan masa depan tanpa menyebut apa yang menopangnya, ceritanya menolak untuk bernapas. Cara apapun yang ku gunakan, ceritanya tetap tidak mau tuntas.

Malam kembali turun. Di luar jendela, angin membawa suara dedaunan yang saling bergesek, suara yang biasanya tidak ku hiraukan. Aku memandangnya sebentar, lalu kembali ke layar. Untuk pertama kalinya, aku tidak menyingkirkan bunyi itu dari kepalaku.

Aku belum berani menuliskannya. Tapi aku mulai merasa, selama ini, aku bukan sedang menulis cerita tentang masa depan. Aku hanya sedang menunda untuk mengakui apa yang telah lama kuabaikan.
Ketika akhirnya aku kembali mengetik, pikiranku tidak sepenuhnya utuh di layar. Ada sesuatu yang tertinggal di luar jendela, ikut masuk bersama bunyi dedaunan itu. Aku menarik napas, meletakkan jemari di atas keyboard, dan mulai menulis lagi. Saat itulah aku mulai menyadari adanya perubahan kecil pada hal-hal sepele. Kata yang ingin kuketik tidak selalu menjadi kata yang muncul di layar.
Aku menuliskan kota, lalu membacanya kembali sebagai luka. Kukira ini hanya salah ketik. Aku menghapusnya dan mencoba lagi. Kota. Enter. Kursor berpindah, tapi kata yang tertinggal tetap saja luka.

Aku berhenti sejenak. Menatap layar terlalu lama, berharap ia kembali patuh seperti biasanya. Namun layar itu hanya memantulkan wajahku sendiri. Wajah yang tampak lelah, sedikit pucat, dan tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunda pengakuan.

Aku mencoba kata lain. Tanah. Jari-jariku ragu sebelum menekan tombol. Saat kata itu muncul, aku merasakan sensasi aneh, seperti menggenggam sesuatu yang rapuh. Beberapa detik kemudian, huruf-hurufnya bergeser sendiri, secara perlahan, menjadi retak.
 
Aku berdiri dari kursi dengan napas pendek. Ini bukan lagi sekadar cerita yang berhenti. Ada sesuatu yang sedang menyela, menyunting, bahkan membantah kehendakku.

Aku mematikan laptop. Membiarkannya tertutup seperti mulut yang kupaksa diam. Namun bahkan dalam gelap, kata-kata itu tetap ada di dalam kepalaku dan berputar tanpa izin. Aku mencoba tidur, tetapi kalimat-kalimat terputus terus muncul di antara mimpiku, seperti kumpulan pesan yang tidak pernah selesai dikirim.

Keesokan paginya, aku pergi ke perpustakaan.

Bukan karena aku butuh referensi, melainkan karena aku butuh tempat yang sunyi. Tempat di mana kata-kata seharusnya tunduk pada rak, klasifikasi, dan debu. Aku duduk di antara buku-buku tua, membuka satu demi satu tanpa adanya tujuan yang jelas.

Di rak paling bawah, aku menemukan kumpulan cerpen lama. Sampulnya kusam, judul-judulnya sederhana. Tahun terbitnya jauh sebelum aku belajar menulis. Aku membukanya secara acak dan mulai membaca.

Semua ceritanya selesai.

Tidak ada kalimat yang terputus. Tidak ada masa depan yang menghilang. Bahkan ketika kisahnya pahit, akhir tetap dituliskan dengan utuh. Seolah penulisnya tidak ragu bahwa dunia akan terus ada untuk menanggung akibat cerita itu.
“Aneh,” gumamku.

Seorang penjaga perpustakaan berdiri tidak jauh dari posisiku. Usianya sulit ditebak. Rambutnya memutih, tapi matanya jernih dan tenang, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan banyak kehilangan.

“Kau mencari cerita yang tidak berhenti?” tanyanya pelan. Aku menoleh, terkejut. “Saya tidak bilang apa-apa.”

Ia tersenyum tipis. “Semua penulis yang datang ke rak itu mencarinya.”
 
Aku menutup buku perlahan. “Kenapa cerita-cerita lama ini bisa selesai, tapi cerita sekarang tidak?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu buku dari tanganku dan membuka halaman tengah. Jemarinya berhenti pada sebuah paragraf yang menyebutkan sungai, ladang, dan musim yang berubah.
“Dulu,” katanya, “orang menulis dengan menyebut apa yang memberi mereka hidup. Sekarang, banyak orang yang menulis seolah hidup itu berdiri sendiri.”

Kata-katanya tidak terdengar menghakimi. Justru itulah yang membuatnya menekan. Aku terdiam, merasa seolah sedang dibaca balik. Aku pulang dengan kepala penuh dan dada yang terasa sesak. Di kamar, aku membuka laptopku lagi. Pelan, perlahan dan berhati-hati, seperti menghadapi sesuatu yang bisa menyakiti balik. Aku menulis satu kalimat pendek, tanpa metafora, tanpa analogi dan tanpa ambisi.
“Kami hidup di atas tanah yang sama”

Kalimat itu tidak berubah. Tidak berhenti. Tidak runtuh.

Aku menambahkan satu kalimat lagi, lalu satu lagi. Cerita itu belum selesai, tapi untuk pertama kalinya, ia bergerak. Perlahan, tertatih, seperti seseorang yang lama terjatuh dan baru belajar berdiri kembali setelah sekian lama.

Namun bersamaan dengan itu, rasa takut yang lain muncul. Jika cerita ini terus berjalan, aku tahu aku tidak akan bisa kembali ke cara lama. Aku tidak lagi bisa berpura- pura bahwa masa depan hanyalah urusan akhir cerita.

Malam itu, aku menutup laptop dengan tangan gemetar. Bukan karena ceritanya berhenti, melainkan karena aku sadar. Jika aku melanjutkannya, aku harus jujur sampai akhir. Dan kejujuran itu, entah kenapa, terasa lebih menakutkan daripada halaman yang kosong. Tanpa kusadari, ceritanya bergerak ke arah yang tidak pernah kurencanakan.

Aku tidak langsung menulis tentang bumi. Aku menulis tentang ingatan.

Tentang pagi-pagi yang dulu terasa biasa. Tentang jalan tanah di belakang rumah yang selalu basah setelah hujan. Tentang kakiku yang kotor oleh lumpur, dan ibu yang
 
pura-pura marah sambil menyiramnya dengan air sumur yang dingin. Aku menulis semua kalimat itu tanpa rencana, tanpa struktur, seolah cerita ini sudah lama menunggu kesempatan untuk keluar.
Kata-kata mengalir lebih cepat dari yang bisa kuatur. Tidak ada kalimat yang runtuh. Tidak ada kursor yang menolak bergerak. Untuk pertama kalinya, cerita itu tidak memberiku jeda.
Aku terhenti di satu ingatan. Sungai.

Aku ingat betul suara airnya. Tidak keras, tapi terus-menerus, seperti napas panjang yang tidak pernah putus. Aku dan teman-temanku dulu berenang di sana, melempar batu, tertawa tanpa alasan. Airnya keruh, tapi hidup. Ada ikan kecil yang berkilat sesaat sebelum menghilang di antara riak.
Aku menelan ludah sebelum melanjutkan.

Sungai itu sekarang hanya garis di peta kota. Di atasnya berdiri deretan bangunan yang tidak pernah menyebut apa yang mereka kubur. Aku belum pernah menuliskan ini sebelumnya. Aku selalu memilih metafora yang lebih aman. Lebih jauh. Lebih dingin.

Tangan kananku gemetar ketika aku mengetik lagi. Aku sadar, selama ini aku tidak menghindari masa depan. Aku hanya berusaha menghindari rasa bersalah.

Rasa bersalah karena aku tahu apa yang hilang, tapi memilih diam. Karena aku tahu cerita tentang kemajuan selalu membutuhkan korban, dan korban itu sering kali tidak diberi suara. Karena aku lebih nyaman menulis dari kejauhan, seolah aku sendiri tidak pernah ikut berdiri di atas tanah yang sama.
Aku berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Di luar, angin kembali bergerak. Daun-daun saling bergesek, lebih pelan kali ini, seperti sedang menunggu sesuatu.

Aku menulis tentang pohon. Tentang satu pohon besar di halaman sekolahku dulu. Tempat kami berteduh saat matahari terlalu terik. Pohon itu ditebang saat aku kelas lima. Katanya, akarnya merusak pondasi. Aku ingat bagaimana bayangannya hilang dari halaman, dan kami belajar di bawah terik tanpa benar-benar mengerti apa yang direnggut.
Aku tidak pernah memprotesnya. Aku hanya menyesuaikan diri. Dan aku menyebut itu sebagai kedewasaan.
Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Aku menulis lebih cepat. Tentang sawah yang berubah jadi perumahan. Tentang udara yang dulu dingin di pagi hari, kini terasa berat. Tentang bau daun basah yang makin jarang kutemui, tergantikan oleh asap dan debu.
Semua itu bukan nostalgia. Itu inventaris kehilangan.

Jemariku terhenti ketika satu kalimat muncul tanpa kususun.

“Masa depan tidak datang dengan sendirinya”

Aku membacanya berulang kali. Kalimat itu tidak berubah. Tidak melawan. Ia berdiri tegak, seolah sudah lama ingin dituliskan. Aku melanjutkannya.
“Masa depan dibangun dari apa yang kita biarkan hilang”

Dadaku bergetar. Ada ketakutan di sana, tapi juga kelegaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku sadar, selama ini aku menulis seolah bumi adalah latar, bukan pelaku. Padahal setiap ingatan yang kupegang berdiri di atas tanah yang sama.
Aku menutup mata sejenak.

Untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya apakah cerita ini akan disukai. Aku tidak memikirkan dewan juri, pembaca, atau tema lomba. Aku hanya tahu satu hal. Jika aku berhenti sekarang, cerita ini akan runtuh lagi.
Aku membuka mata dan kembali ke layar. Aku siap menuliskan apa yang selama ini kutunda. Setelah kalimat-kalimat itu tertulis, aku tidak langsung merasa lega.
Justru sebaliknya.

Ada kekosongan aneh yang mengendap di dadaku, seperti ruang yang baru saja dibongkar dan belum tahu akan diisi apa. Aku menatap layar lama-lama, membaca ulang

apa yang baru saja kutuliskan. Setiap kata terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena indah, melainkan karena tidak memberiku jarak untuk bersembunyi.
Aku menyadari sesuatu yang membuat jemariku kembali gemetar.

Cerita ini tidak lagi hanya tentang bumi. Ini tentang diriku. Tentang pilihan- pilihan kecil yang selama ini kusebut kewajaran, tentang diam yang kusamarkan sebagai kebijaksanaan. Aku selalu mengira menulis adalah cara aman untuk berbicara, tapi malam itu aku tahu, kejujuran tidak pernah netral.
Aku menutup mata dan mencoba membayangkan naskah ini dibaca orang lain. Dewan juri dengan catatan di pinggir halaman. Pembaca yang mungkin mengernyit, merasa dituduh. Bahkan diriku sendiri, beberapa tahun ke depan, yang mungkin bertanya mengapa aku begitu berani malam ini, dan begitu pengecut di hari-hari lain.
Pikiran itu membuat perutku mual.

Aku bisa berhenti sekarang, bisik suara yang sudah sangat kukenal. Mengganti nada. Melunakkan kalimat. Mengembalikan bumi ke posisi aman sebagai latar belakang. Tidak ada yang akan benar-benar menyalahkanku.
Tanganku bergerak ke touchpad, kursor melayang di atas paragraf yang baru saja kutulis. Sekali klik, aku bisa menghapus semuanya. Mengembalikan cerita ke bentuk awal yang lebih jinak.
Namun aku tidak melakukannya.

Aku teringat sungai itu lagi. Bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai pertanyaan yang tidak pernah kujawab. Jika aku memilih diam lagi, apa bedanya aku dengan bangunan-bangunan yang berdiri di atasnya tanpa pernah menyebut apa yang mereka kubur?
Napasku terasa lebih berat. Aku merasa kecil, dan untuk pertama kalinya, itu bukan perasaan yang ingin kuhindari. Aku menulis satu kalimat tambahan. Lalu berhenti. Membacanya. Membiarkannya menolak untuk menjadi cantik.
 

Aku sadar, cerita ini mungkin tidak memberi harapan yang nyaman. Ia tidak menawarkan akhir yang rapi atau tokoh yang menang. Yang ia tawarkan hanyalah pengakuan. Bahwa masa depan tidak bisa ditulis tanpa menyebut apa yang telah kita rusak, dan apa yang masih mungkin kita rawat.
Kesadaran itu tidak membuatku berani sepenuhnya. Tapi ia membuatku jujur, dan untuk malam itu, aku rasa itu cukup. Aku kembali menulis. Bukan dengan keyakinan penuh, melainkan dengan kesediaan untuk menanggung akibatnya.
Aku tidak tahu kapan tepatnya cerita ini selesai.

Tidak ada penanda yang jelas, tidak ada kalimat pamungkas yang terasa pantas. Pada satu titik, aku hanya berhenti menulis. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata itu kini menuntut sesuatu yang tidak lagi bisa kuputuskan sendiri.
Aku menatap halaman terakhir lama-lama. Merenung, terhanyut olehnya.

Di sana tidak tertulis masa depan. Tidak ada gambaran tentang bagaimana semuanya akan berakhir. Yang ada hanya jejak ingatan, kehilangan, dan upaya untuk menyebutnya dengan jujur. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menutupnya dengan kepastian.
Aku menyadari sesuatu yang terlambat tapi penting. Cerita ini tidak pernah dimaksudkan untuk selesai di tanganku.

Di masa depan, naskah ini mungkin akan berpindah tangan. Aku tidak tahu bagaimana ia dibaca. Aku tidak tahu bagian mana yang dilewati, mana yang membuat orang berhenti sejenak. Aku hanya tahu, begitu ia keluar dari mejaku, ceritanya berubah menjadi sesuatu yang lain.
Di suatu tempat, seseorang membuka halaman pertamanya.

Mungkin seorang anak yang belum mengerti sepenuhnya apa arti kehilangan, tapi bisa merasakan nada yang ganjil ketika sebuah sungai disebut tanpa air. Mungkin seseorang yang pernah tinggal dekat hutan, atau sawah, atau halaman sekolah yang kini

hanya tinggal ingatan. Atau mungkin hanya seseorang yang tidak sedang mencari apa- apa, dan tanpa sengaja menemukan dirinya disebut.
Aku membayangkan jari yang berhenti di satu kalimat sederhana.

“Kami hidup di atas tanah yang sama”

Kalimat itu tidak memberi jawaban. Ia tidak menyuruh apa pun. Ia hanya berdiri di sana, menunggu.
Dan di situlah ceritanya berlanjut.

Bukan di layar laptopku, bukan di halaman terakhir naskah ini, melainkan di kepala orang yang membacanya. Di pilihan-pilihan kecil yang mungkin tidak pernah disebut sebagai cerita, tapi menentukan apakah kalimat itu akan tetap bisa dituliskan, atau suatu hari nanti ikut terhenti.
Aku menutup naskah ini tanpa memberi judul akhir. Bukan karena ceritanya selesai, melainkan karena sekarang, giliran orang lain yang akan meneruskannya.

 Karya : Rizky Alvian Dwi Putra M

0 Komentar