Bumi di Persimpangan, Antara Keserakahan dan Kesadaran

    


    Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak bisa dianggap sebagai kejadian yang muncul begitu saja. Ia terbentuk dari kebiasaan manusia yang sejak lama mengabaikan batas alam. Pembangunan terus berjalan, proyek demi proyek dilaksanakan, sementara alam dipaksa menyesuaikan diri tanpa diberi kesempatan untuk pulih. Dalam kondisi ini, manusia sering lupa bahwa bumi memiliki batas kemampuan.

    

    Selama bertahun-tahun, keberhasilan pembangunan lebih sering dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi. Semakin besar hasil yang dicapai, semakin dianggap berhasil. Namun, ukuran tersebut jarang disertai dengan pertanyaan tentang dampaknya bagi lingkungan. Hutan ditebang untuk memenuhi kebutuhan industri, laut dimanfaatkan tanpa memikirkan keseimbangannya, dan tanah terus dieksploitasi agar menghasilkan keuntungan. Semua ini terlihat menguntungkan, setidaknya dalam jangka pendek. 


    Masalahnya, alam tidak bekerja seperti mesin yang bisa dipaksa terusmenerus. Ketika batas daya dukungnya terlampaui, kerusakan mulai muncul dalam berbagai bentuk. Banjir, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas lingkungan menjadi tanda bahwa keseimbangan mulai terganggu. Jika situasi ini dibiarkan, generasi yang akan datang harus menghadapi akibat dari keputusan yang mereka tidak ikut ambil. 


    Upaya menjaga lingkungan sebenarnya sudah sering dibicarakan. Namun dalam praktiknya, kebijakan yang ada kerap berhenti pada tataran dokumen. Aturan dibuat, tetapi pelaksanaannya lemah. Ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi yang besar, perlindungan lingkungan sering kali tidak menjadi prioritas utama. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya soal alam, tetapi juga soal komitmen dan tanggung jawab. 


    Kerusakan lingkungan tidak memberi dampak yang sama bagi semua orang. Mereka yang kesehariannya bergantung pada alam justru merasakan akibat paling besar. Cuaca yang semakin sulit diprediksi memengaruhi hasil pertanian, kondisi laut yang memburuk mengancam kehidupan di pesisir, sementara lahan yang rusak mempersempit ruang hidup. Ironisnya, mereka yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan justru sering berada di posisi yang lemah. Ruang untuk menyampaikan keluhan terbatas, sementara kepentingan mereka mudah terpinggirkan. Dalam banyak kasus, suara mereka kalah oleh keputusan yang dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi di lapangan. 


    Dalam kondisi seperti ini, peran generasi muda semakin terasa dan tidak bisa lagi dianggap sebagai pelengkap semata. Generasi muda bukan hanya penerima dampak krisis lingkungan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mendorong perubahan. Kesadaran terhadap persoalan lingkungan perlu diiringi dengan keberanian untuk bersuara dan bersikap kritis. Kepedulian tidak cukup berhenti pada simbol atau kampanye sesaat. Ia harus terlihat dalam pilihan seharihari, cara bersikap, serta dorongan nyata agar arah pembangunan tidak mengorbankan lingkungan. 


    Cara manusia memandang alam juga perlu diubah. Alam bukanlah sesuatu yang berdiri terpisah dan bisa diperlakukan sesuka hati. Manusia sebenarnya hidup dalam satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung. Tidak ada bagian yang benar-benar berdiri sendiri. Karena itu, pemahaman tentang keterkaitan ini seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam penentuan kebijakan, kegiatan ekonomi, serta dalam sikap dan keputusan sehari-hari. 


    Masa depan bumi tidak dapat bergantung semata-mata pada kemajuan teknologi atau kemunculan berbagai inovasi baru. Tanpa perubahan sikap dan cara berpikir manusia, berbagai kemajuan tersebut justru berpotensi memperpanjang pola eksploitasi yang sama. Yang jauh lebih menentukan adalah sikap manusia dalam menyikapi alam dan memilih apa yang dianggap penting hari ini. Selama kepentingan jangka pendek terus diutamakan, kerusakan lingkungan akan terus berulang. Merawat bumi berarti berani menahan diri dan memikirkan dampak dari setiap keputusan yang diambil. 


    Pada akhirnya, upaya menjaga bumi bukan lagi soal pilihan pribadi. Ia menjadi kebutuhan bersama. Bumi mungkin tetap bertahan sebagai sebuah planet, tetapi manusia belum tentu dapat hidup dengan kondisi yang layak jika kerusakan terus dibiarkan. Apa yang terjadi di masa depan sangat ditentukan oleh pilihan hari ini, apakah manusia bersedia lebih peduli atau terus menunda tanggung jawab terhadap lingkungan. 


Nama: Dania Ramadani 

Instansi: Prodi Hukum Ekonomi Syariah Universitas Wahid Hasyim Semarang

0 Komentar